Bappeda: Sebaran Akomodasi Hotel di Gorontalo Belum Merata

Gorontalo – Hasil riset yang dirilis Badan Penelitian Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo, menunjukkan indeks akomodasi hotel belum tersebar merata untuk mendukung destinasi wisata di daerah itu.

Kasubid Litbang Ekonomi Pembangunan Bappeda, Wiwik Junus Ismail, Rabu, mengatakan ada enam obyek wisata yang diukur yakni Pulau Saronde di Kabupaten Gorontalo Utara, wisata bawah laut Olele di Bone Bolango, Benteng Otanaha di Kota Gorontalo dan Pantai Libuo di Pohuwato.

Obyek wisata lainnya adalah Pentadio Resort di Kabupaten Gorontalo dan Pantai Bolihutuo di Boalemo.

Menurutnya Pulau Saronde, Olele dan Libuo memiliki indeks akomodasi terendah dengan persentase 33,3 persen.

Obyek wisata Pensort dan Pantai Bolihutuo jauh lebih baik di angka 66,7 persen.

Sedangkan Benteng Otanaha di Kota Gorontalo menjadi yang terbaik dengan nilai 100.

Lemahnya indeks akomodasi (hotel) di sekitar Saronde, Olele dan Libuo relevan dan bisa menjelaskan rendahnya Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata (PADsp) di Gorontalo Utara, Bone Bolango dan Pohuwato.

“Kuatnya indeks akomodasi dan aksesibilitas menuju objek Benteng Otanaha relevan dan bisa menjelaskan relatif tingginya PAD Kota Gorontalo. Benteng Otanaha dengan raihan total indeks tertinggi layak menjadi branding pariwisata Kota Gorontalo,” urainya.

Penelitian yang berjudul “Analisis Kontribusi Pariwisata Terhadap Perekonomian Provinsi Gorontalo” itu juga mengukur faktor lain seperti daya tarik wisata, aksebilitas serta kondisi sekitar kawasan.

Ada juga indikator pengelolaan dan pelayanan, sarana penunjang, tersedianya air bersih dan tingkat kelayakan.

PADsp berasal dari pajak hotel, pajak restoran, pajak tempat hiburan serta retribusi tempat rekerasi dan olahraga.?

PADsp di Kabupaten Kota di Provinsi Gorontalo relatif kecil terhadap PAD total.

“Olele adalah spot penyelaman terbaik tetapi indeks akomodasi, pengelolaan dan pelayanan serta sarana penunjang lemah. Bila tidak ada pembenahan serius, sangat mungkin dampak ekonomi ke pemerintah dan masyarakat terus menurun bersamaan dengan kualitas terumbu karang,” sambungnya.

Beberapa rekomendasi kebijakan yang disampaikan melalui penelitian tersebut yakni perlu mendorong adanya gerakan sadar wisata.

Gerakan untuk kesadaran, keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat terhadap pengembangan pariwisata secara terprogram, terjadwal, didukung oleh semua pihak.

Sektor pariwisata menjadi program unggulan pada periode kedua pemerintahan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Wagub Idris Rahim.

“Oleh karenanya perlu adanya perubahan pola pikir dan kepedulian dari jajaran birokrasi provinsi, kabupaten/kota, bahkan sampai ke level kecamatan, desa dan kelurahan. Diharapkan dapat mengerahkan semua sumber daya, meningkatkan sinergi dan kolaborasi untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan,” tambahnya. (Ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here