Peringati HKSN 2018, Mensos Serahkan Penghargaan Kesetiakawanan Sosial

Gorontalo – Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita menganugerahkan piagam penghargaan kepada pilar-pilar sosial, tokoh, individu, dan lembaga yang kiprahnya telah menginspirasi, konsiten berjuang di bidangnya dan menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dalam berbagai bidang.

Penghargaan diserahkan Mensos dalam acara Malam Refleksi Nasional dan Silaturahmi Kebangsaan yang akan dilaksanakan di Gedung Belle Li Mbui, Rabu malam (19/12).

“Pemerintah menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada para tokoh, individu, Lembaga, dan kelompok yang telah menjadi inisiator, pelopor, dan berkarya sepenuh hati di bidang tugasnya masing-masing. Saya berharap generasi muda dapat menjadikan mereka sebagai inspirasi untuk terus melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, lingkungan sekitar dan bangsa ini,” tutur Mensos dalam sambutannya.

Foto: Istimewa

Penghargaan Kesetiakawanan Sosial diberikan kepada Hamim Pou (Bupati Bone Bolango Provinsi Gorontalo), Krisna Mukti (Duta Komunitas Adat Terpencil), PT. Sumber Alfaria Trijaya,Tbk (Alfamart), Yayasan Jalinan Kasih (MNC), serta Ida Ayu Selly Fajarini (Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial Kota Denpasar Provinsi Bali). Kelimanya dinilai yang dinilai memiliki kepedulian dan komitmen yang tinggi dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Penghargaan Pemberdayaan Ekonomi Produktif yang diterima oleh Wali Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat sebagai Daerah Penggerak Pemberdayaan Ekonomi Produktif Masyarakat Miskin Wilayah I Tahun 2018.

Penghargaan Penyaluran Rastra Terbaik diberikan kepada Bupati Bintan Provinsi Kepulauan Riau, Wali Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara, Bupati Muko-Muko Provinsi Bengkulu, Wali Kota Metro Provinsi Lampung, Bupati Solok Provinsi Sumatera Barat, Bupati Asahan Provinsi Sumatera Utara.

Menteri juga menyerahkan penghargaan Pekerja Sosial Masyarakat Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018 kepada SA. Soekarsih (Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran Kota Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018 Jemi Darmawan,S.Sos (TKSK Kecamatan Donorojo, Kab. Pacitan Provinsi Jawa Timur), Karang Taruna Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018 yakni Karang Taruna Jayagiri (Desa Indragiri, Kec Rancabali Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat).

Penghargaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018 diberikan kepada Yayasan Rumah Kampus Pena, Kelurahan Utan Kayu Selatan Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur Provinsi DKI Jakarta. Penghargaan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2018 diberikan kepada KUBE Sinar Rezeki (Kota Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat), sedangkan penghargaan Pendamping KUBE Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2018 diberikan kepada Yusfitra (Kota Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat).

Mensos juga menyerahkan penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada pegawai Kementerian Sosial yang telah mengabdi selama 30 tahun (Sarino, Kepala Panti PSKW Mulyajaya Jakarta), mengabdi selama 20 tahun (Al Muallif, Kasubdit Lembaga Kesejahteraan Sosial), dan mengabdi selama 10 tahun (Keukeu Komarawati, Kasubdit Bantuan Sosial).

Tantangan Kesetiakawanan Sosial
Menteri Agus mengatakan paham kebangsaan yang dilandasi nilai dan semangat kesetiakawanan sosial untuk mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial dewasa ini menghadapi tantangan yang di antaranya muncul sebagai konsekuensi dari globalisasi.

“Salah satu tantangan globalisasi sebagaimana dinyatakan Anthony Giddens (1999) adalah munculnya politik identitas yang melahirkan berbagai gerakan identitas kolektif di antaranya gerakan fundamentalisme yang menjadi habitat bagi persemaian radikalisme, intoleransi, dan ekstremisme,” tuturnya.

Mensos menyebutkan indikasinya adalah menguatnya konservatisme yang “terorganisir” yang walaupun ekspresinya tidak menggunakan tindakan kekerasan, namun tetap mengarah pada intoleransi. Indikasi berikutnya adalah menguatnya organisasi dan aktivisme kaum radikal yang ditandai dengan banyaknya kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas.

“Tingkatan tertinggi dari berkembangnya gerakan radikal berbentuk aksi-aksi terorisme yang menjadi momok bagi bangsa ini,” katanya.

Dikatakan Agus, pertumbuhan pesat gerakan sosial yang mengusung berbagai paham dan ideologi intoleran dapat menggerus paham kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai kesetiakawanan sosial. Paham kebangsaan yang dimaksud secara sederhana adalah suatu rasa, kebanggaan, kepedulian, kesediaan berkorban, dan tanggungjawab terhadap masa depan tanah air Indonesia.

“Pudarnya paham kebangsaan dengan demikian merupakan ancaman bagi daya tahan NKRI. Intoleransi bukan sekedar fenomena biasa. Sikap dan aksi intoleran yang terjadi di banyak negara merupakan bentuk dari upaya menghidupkan ikatan ideologis dan primordial yang terbingkai dalam imajinasi tentang “negara alternatif”,” terangnya.

Jika dibiarkan, lanjutnya, bukan tidak mungkin NKRI akan terjebak ke dalam situasi konflik ideologis yang berlarut-larut dan akhirnya terjerumus menjadi negara gagal.

“Itulah kondisi yang terjadi di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika. Di Timur Tengah, kelompok ISIS telah menghancurkan struktur sosial, politik, dan ekonomi negara-negara di kawasan. Di Asia Selatan, ideologi Taliban di Afghanistan menjadi ancaman berkepanjangan dan membuat rawan menjadi “negara gagal” (failed states),” katanya.

Ia mengatakan ada beberapa strategi yang dapat diambil sebagai pijakan kebijakan. Pertama, memperkuat dan memberdayakan budaya lokal sebagai lahan dan habitat utama bagi pembangunan karakter. Kedua, kampanye kesetiakawanan sosial harus menjadi arus utama dalam setiap program pemerintah, pusat maupun daerah.

Ketiga, memperkuat pemerintah daerah sebagai garda terdepan dalam penumbuhkembangan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dan pencegahan dini terhadap potensi intoleransi. Keempat, mengintensifkan pendidikan kewarganegaraan di sekolah dan perguruan tinggi. Di samping itu, pendidikan keagaaman di sekolah dan universitas harus diarahkan untuk memperkokoh persatuan dalam bingkai NKRI.

Dialog Kestiakawanan Sosial
Malam Refleksi Nasional dirangkai dengan Dialog Interaktif tentang Kesetiakawanan Sosial Harmoni Indonesia dengan narasumber Yudi Latief, Sam Bimbo, Syahroni Madihin, Idah Syahidah, dan Elina Joerg dipandu oleh Effendy Ghazali.

Yudi Latief, Ph.d merupakan akademisi yang memberikan pandangannya tentang nilai-nilai bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila. Sam Bimbo yang mewakili Seniman akan menyampaikan kritik sosial mengenai kondisi sosial budaya Indonesia dan Elina Joerg adalah aktris yang mewakili generasi milenial yang menyuarakan pandangan dan pendapatnya tentang pola sikap generasi “kekinian” memandang masalah sosial budaya dan gaya hidup anak muda.

Dialog juga menghadirkan Idah Syahidah Rusli Habibie yang mewakili Masyarakat Gorontalo serta Syahroni Madihin yang mewakili unsur budayawan. Syahroni membawakan seni puisi bertemakan kearifan lokal serta memberikan wejangan dan nasihat-nasihat dalam sebuah petuah bijak dengan diiringi tabuhan rebana.

Yudi Latif mengatakan sesaat setelah Indonesia merdeka, banyak tokoh-tokoh di Indonesia dari berbagai daerah menyumbangkan harta kekayaan pribadi untuk disumbangkan kepada negara. Ini merupakan salah satu bentuk kesetiakawanan sosial.

Kesetiakawanan sosial, lanjut dia, harus diarahkan dari solidaritas yang mekanik menjadi solidaritas fungsional. Interaksi sosial diperbaiki sehingga masyarakat menjadi guyub, perbedaan dimaknai sebagai keragaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Sementara Idah Syahidah optimistis kesetiakawanan sosial masih akan melekat kuat di masyarakat Indonesia. Salah satunya Kementerian Sosial yang memberikan berbagai bantuan sosial kepada masyarakat Gorontalo dalam acara Linta Batas Kesetiakawanan Sosial (LBKS).

“Kesetiakawanan sosial adalah bagaimaan meningkatkan kepedulian pada orang yang memerlukan,” katanya.

Bagi Elina Joerg mengatakan kesetiakawanan sosial bagi generasi milenial adalah memanfaatkan media sosial untuk menggalang kebersamaan, semangat berbagi dan peduli pada orang lain.

Tema HKSN tahun 2018 “Kesetiakawanan Sosial Harmoni Indonesia”. Filosofi Kesetiakawanan Sosial adalah kepekaan rasa ingin menjadi bagian atau terlibat dari suatu keadaan sehingga muncul keinginan untuk menolong secara sukarela atau tanpa pamrih.

Esensi dari Peringatan HKSN adalah untuk menggugah perasaan, empati terhadap kesulitan orang lain secara bersama-sama melalui aksi nyata (togetherness for willingness/ menggugah kesadaran bersama untuk kebaikan semua). (Prwr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here